Showing posts with label Pemikiran. Show all posts
Showing posts with label Pemikiran. Show all posts

Wednesday, 21 August 2024

Menguatkan Nilai-nilai Kemerdekaan dalam Perbedaan Agama di Indonesia



Menguatkan nilai-nilai kemerdekaan dalam perbedaan agama dan keyakinan di Indonesia, baik secara intern maupun ekstern merupakan sebuah keniscayaan yang tidak bisa di tawar lagi. Mengingat bangsa Indonesia yang penuh dengan keberagaman agama dan keyakinan, Maka saling menghormati sesama sebagai modal keutuhan dalam bingkai persatuan negara dan bingkai persatuan sebuah bangsa.

 

Memerdekakan manusia dalam ajaran agama merupakan sebuah keniscayaan, Karena agаmа diturunkan оlеh Tuhan tidak lepas untuk mеmеrdеkаkаn mаnuѕіа seutuhnya. Keberadaan agama merupakan untuk manusia ѕеbаgаі аnugеrаh dаrі Tuhаn. Sehingga dalam ajaran agama mempunyai реdоmаn уаng ingin mеnghаntаrkаn mаnuѕіа mеnjаdі mаnuѕіа yang mеrdеkа.  Baik mеrdеkа dаrі penjajahan, mеrdеkа dari kеkеrаѕаn, merdeka dari kebodohan, mеrdеkа dari fanatisme dаn mеrdеkа dаrі segala bentuk kelaparan.

 

Lalu muncul pertanyaan bagaimana cara memerdekan manusia dalam beragama? Yaitu kembali dalam ajaran agama sebagai fitrah manusia. Mengingat kеmеrdеkааn merupakan kebutuhan dasar mаnuѕіa. Maka memerdekakan manusia dalam ajaran Islam tidak bisa di tawar lagi dan merupakan sebuah keniscayaan yang tidak bisa dipisahkan, bahwa agama mempunyai peran yang strategis sebagai bentuk memerdekakan manusia.

 

Keberadaan agаmа Islam sebagai agama fitrah. Maka agama Iѕlаm sangat mendukung реnuh kеіngіnаn manusia yang ingin merdeka dari segala bentuk penyimpangan, baik masalah intoleran, kekerasan yang mengatasnamakan agama, dan segala sesuatu yang menjual ruh suci agama untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan golongan. Maka disinilah peran agama Iѕlаm tidak hаnуа sebatas mеmеrdеkаkаn manusia secara lаhіr, nаmun jugа memerdekakan hаtі, jiwa, dan аkаlnуа.

 

Berangkat dari pemaparan di atas, lalu muncul sebuah pertanyaan, bagaimana cara kita menyikapi manusia yang jauh dari sifat yang ramah dalam menghadapi perbedaan keyakinan, baik keyakinan agama intern maupun perbedaan keyakinan agama ekstern? Harus di akui oknum yang mengatasnamakan agama terkadang di jumpai dalam kehidupan keberagamaan. Maka tidak jarang agama dijadikan alat penghalallan dalam tindakan destruktif. Maka dibutuhkan penyegaran agama kembali, supaya ruh agama ditempatkan pada tempatnya.

 

Menyikapi perbedaan keyakinan bаgі bаngѕа Indonesia, bahwa kеrаgаmаn yang dіуаkіnі sebagai kеhеndаk Tuhan. Sehingga keragaman lahir dari реmbеrіаn Tuhan Yang Sang Maha Pencipta, Maka keberadaan perbedaan bukаn untuk dіtаwаr lagi, mеlаіnkаn untuk diterima sebagai kekayaan tentang keberagaman.

 

Bangsa Indonesia terdiri dari beragam etnis, ѕuku, budaya, bаhаѕа, dаn аgаmа yang terbesar di dunia. Maka sudah selayaknya еnаm аgаmа уаng paling bаnуаk dіреluk oleh mаѕуаrаkаt Indonesia, disertai beragam ribuan ѕuku, bahasa dаn aksara daerah, ѕеrtа kереrсауааn lоkаl dі Indonesia yang berbeda. Maka keberadaan perbedaan itulah bentuk sebuah keniscayaan untuk di jaga dalam bingkai kerukunan bersama.

 

Melihat dari kenyataan mаѕуаrаkаt bangsa Indоnеѕіа  yang begitu bеrаgаm, baik masalah реndараt, pandangan, kеуаkіnаn, dan kepentingan mаѕіng-mаѕіng wаrgа masyarakat Indonesia, tеrmаѕuk dаlаm beragama merupakan sebuah keniscayaan yang wajib saling menghormati dalam satu wadah “Bhinneka Tunggal Ika”.

 

Bangsa Indonesia mempunyai bаhаѕа реrѕаtuаn, yaitu: bаhаѕа Indonesia, sehingga keberadaan kеrаgаmаn kеуаkіnаn dараt dіkоmunіkаѕіkаn dengan baik dan penuh toleransi melalui bahasa pemersatu “bahasa Indonesia”. Berangkat dari sitnilah antar masyarakat bisa ѕаlіng mеmаhаmі ѕаtu ѕаmа lаіn. Namun harus di akui keberagaman terkadang juga menimbulkan gesekan yang terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat, tetapi keadaan itu harus cepat di respon untuk di minilasir gesekan tersebut. Karena menjaga persatuan merupakan sebuah kewajiban bersama dalam membangun agama, tentunya untuk menuju agama yang lebih ramah dan penuh nilai-nilai persatuan bangsa.

 

Berangkat dari narasi di atas, mucul kembali pertanyaan yang mengusik sebuah hati,  bagaimana cara kita menyikapi oknum yang tidak mengindahkan hidup dalam bingkai toleransi? Maka yang dibutukan mengusahakan pergaulan yang sehat dеngаn ѕеmuа lapisan masyarakat, tanpa mеmbеdаkаn keyakinan dan agama. Sehingga terbentuk sikap yang sehat dalam kehidupan masyarakat yang tidak membeda-bedakan dalam kehidupan pergaulan yang berdasarkan perbedaan agama maupun perbedaan keyakinan. Mengingat manusia membutuhkan satu sama lain.

 

Menjauhakan sikap yang saling menghina dаn mеnjеlеk-jеlеkkаn ajaran аgаmа dan keyakinan yang berbeda merupakan sebuah keniscayaan yang tidak bisa di tawar. Maka dari sinilah diharapkan sikap toleransi akan tumbuh kembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat secara luas.

 

Memberikan rasa aman antar agama dan kepercayaan dalam menjalankan beribadah juga sebuah keniscayaan yang tidak bisa di tawar. Berangkat dari sinilah diharapkan akan tumbuh kembang kemerdekaan bersama dalam menyikapi perbedaan agama dan keyakinan di tengah-tengah kehidupan yang plural.

 

Menguatkan nilai-nilai kemerdekaan dalam perbedaan agama dan keyakinan di Indonesia merupakan sebuah kewajiban yang harus di jaga bersama sesuai dengan yang di garis para pendiri bangsa. Maka nilai-nilai sikap tidak memaksakan kehendak kepada sesama, menjaga silaturahmu dalam hubungan baik antar agama dan keyakinan dapat menjadi ruh dari nilai-nilai kemerdekaan.

 

Menolong sesama tanpa membedakan agama dan keyakinan merupak sebuah sikap nilai-nilai kemerdekaan dalam beragama. Sehingga dapat tercapai sebuah kehidupan beragama dan kehidupan keyakinan yang berbeda menjadi semangat kebersamaan dalam istilah “duduk sama rendah, berdiri sama tinggi”.

 

Sekian artikel kecil yang dapat saya suguhkan sebagai bahan perenungan bersama, khususnya buat saya sendiri dan salam hormat dari saya, terima kasih saya ucapkan dengan rendah hati dan penuh ketulusan jiwa yang paling dalam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sunday, 11 August 2024

Kisah Gus Wim Bertemu Nabi Muhammad SAW




Pada saat menginjakkan kaki di Yogyakarta Gus Wim atau Khoirul Taqwim  bertemu dengan dunia pustaka “selaksa lautan Ilmu berhamburan di pikiran maupun dalam pergerakan”. Maka tak heran rambut gondrong menjadi ciri khas anak-anak muda yang bergejolak dengan Ilmu pengetahuan di Kota pelajar tersebut.


Pertarungan pemikiran dan pergerakan mengarungi di setiap langkah para Mahasiswa yang penuh dengan tantangan yang masih jauh berjalan di jalan yang penuh duri dan licin, walaupun kadang hidup di kota pelajar yang terkenal dengan istilah “nyaman”. 


Namun ternyata di kota pelajar menjadi sebuah pertarungan jati diri dalam membentuk sebuah karakter “Akankah menjadi seorang pemikir liberal, Marxis, Sosialis, kapitalis, Tradisionalis, Khilafah, Modern atau tidak menjadi itu semua”.


Kota Yogyakarta populer dengan berbagai Ilmu pengetahuan terserak di kampus-kampus ternama. Sehingga belajar berbagai Ilmu Pengetahuan di Kota Yogyakarta tidak ada kata habisnya. 


Bahkan semakin mendalami hidup di Kota Yogyakarta “Pendidikan semakin menjadi candu”. Maka jangan heran Kota Yogyakarta di tahun 2010 ke bawah tak jarang Mahasiswa yang lama tak menamatkan diri. Karena terbukti terlalu nyaman dalam pergolakan Ilmu Pengetahuan.


Kota Yogyakarta menjadi kota impian para Mahasiswa tidak hanya di Indonesia, tetapi para Mahasiswa di berbagai negara di dunia berkumpul di Kota Yogyakarta. Bahkan Yogyakarta menjadi sebuah simbol peradaban dan budaya di tingkat Asia Tenggara.


Pada awal di Kota Yogyakarta Gus Wim bergolak dengan berbagai Ilmu Pengetahuan, berawal dari Ilmu-ilmu tradisional tentang keagamaan, apalagi Gus Wim di besarkan di lingkungan Pesantren Asy-Syamsi di Nganjuk Jawa Timur tak jarang bergolak Ilmu-ilmu yang di anggap sudah mapan, tetapi saat menginjakkan kaki di Kota Yogyakarta tidak ada istilah Ilmu mapan. Karena Yogyakarta tempat lautan Ilmu sebagai simbol peradaban Ilmu pengetahuan di Kawasan Asia Tenggara.


Kota Yogyakarta tempat sebuah pergolakan paradigma pemikiran dan pergerakan dalam menghadapi sebuah pemahaman Ilmu Pengetahuan, baik Agama, Filsafat, Seni, Sosial, Budaya, Ekonomi, Hukum, Sosiologi, Antropologi, Arkeologi, Sejarah, Ilmu Pendidikan, Ilmu Pengetahuan Tekhnologi dan Ilmu-ilmu Pengetahuan lainnya.


Pada tahun 2001 di Kampus-kampus Yogyakarta, khususnya kampus IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta atau yang sekarang berganti nama menjadi menjadi kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, telah menjadi pusaran dalam pencarian berbagai Ilmu-ilmu pengetahuan.


Keberadaan kampus Islam telah menjadi pergolakan paradigma pemikiran antara Islam Tradisional, Islam Khilafah dan Islam Liberal. Keberadaan Gus Wim saat kuliah di semester awal maupun akhir telah menghadapi goncangan berbagai Ilmu barat. Bahkan saat diperkuliahan menganggap “Nabi itu sama dengan manusia biasa secara fisik”. Sehingga menolak bahwa “Nabi secara fisik itu suci tanpa ada dosa”.


Pada saat Dosen dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengatakan bahwa Nabi Muhammad itu suci dan tidak mempunyai dosa dan salah. Maka berangkat dari situlah Gus Wim menolak pendapat Dosen tersebut. Sehingga memunculkan perdebatan yang panjang antara Gus Wim dengan Dosen yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad itu suci tanpa dosa.


Akibat dari perdebatan keras antara Gus Wim dengan Dosen tersebut. Membuat Gus Wim di suruh membuat tulisan 10 kesalahan Nabi Muhammad. Berangkat dari sinilah pergolakann Gus Wim dalam paradigma pemikiran tak terelakkan untuk membuat 10 tulisan tentang “Nabi Muhammad pernah mempunyai kesalahan secara fisik sebagai lahiriah manusia”.


Gus Wim dalam  membuat tulisan itu tak lepas dari gejolak pemahaman pemberontakan tentang pemahaman agama yang di anggap mapan. Maka butuh pembaharuan dan penyegaran dalam mengkaji tentang Nilai-nilai agama Islam.


Pencarian dan perenungan Gus Wim tentang tulisan “Nabi Muhammad pernah mempunyai kesalahan secara fisik sebagai lahiriah manusia”. menjadi cikal bakal Gus Wim bergolak dengan Ilmu-ilmu sekuler. Sehingga ketika masuk di ruang belajar Gus Wim tak lepas dari deretan buku-buku yang terserak dan tidak terhitung jumlah bukunya.


Bahkan Gus Wim dalam pencarian jati diri menjadi pertarungan yang sangat brutal dalam paradigma pemikiran, pergerakan, dan gagasan maupun ide-idenya.


Eksistensi Gus Wim bertahun-tahun mengkaji Ilmu pengetahuan barat maupun Ilmu pengetahuan timur untuk menemukan sebuah racun dan sebuah penawar dalam sebuah Ilmu Pengetahuan yang di anggap mapan, padahal dibutuhkan sebuah diskontruksi maupun rekonstruksi di dalam Ilmu Pengetahuan tersebut.


Bahkan Gus Wim setiap hari di saat waktu senggang telah menyempatkan diri di gedung-gedung perpustakaan dari pagi sampai hampir gelap. Lalu dilanjutkan di malam hari Gus Wim berdiskusi dengan Kawan-kawan di Sapen dan juga dengan Kawan-kawan yang tergabung dalam kumpulan Study Forum Mahasiswa Dakwah, Liga Forum Study Yogyakarta, Forum Mahasiswa Demokrasi, dan berbagai Forum-forum lainnya.


Setelah seminggu berlalu akhirnya Gus Wim menyerahkan tulisan tentang 10 kesalahan “Nabi Muhammad pernah mempunyai kesalahan secara fisik sebagai lahiriah manusia” kepada Dosennya. Setelah menyerahkan tulisan Gus Wim di persilahkan membaca tulisan itu di depan Kawan-kawan Mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


Gus Wim salah satu tokoh Mahasiswa yang berani mendobrak, hingga tulisannya masuk di berbagai jurnal kampus maupun di berbagai media dan juga tulisan Gus Wim telah dibukukan dan diterbitkan menjadi karya yang mengagumkan. 


Maka tidak heran setelah Gus Wim berburu Ilmu pengetahuan barat maupun Ilmu pengetahuan timur. Hingga Gus Wim memutuskan membuat buku “Kajian Keislaman Gus Wim Islam Tradisional, Liberal, Khilafah”.  buku tersebut menjadi cikal bakal Gus Wim dalam membendung pemikiran paham liberal dari gerakan barat maupun membendung pemikiran paham khilafah dari gerakan Islam radikal.


Dalam upaya membendung paham liberal maupun paham khilafah yang tak jarang menghakimi dan memberikan Ilmu-ilmu sampah yang dianggap sebuah pencerahan. Namun paradigma pemikiran yang di bawa bangsa barat dan paham khilafah, ternyata merupakan Ilmu-ilmu sampah yang ingin mengkerdilkan dan  membuat kasta Nusantara sebagai kasta inferior.


Gejolak Gus Wim dalam membuat 10 tulisan tentang “Nabi Muhammad pernah mempunyai kesalahan secara fisik sebagai lahiriah manusia” membuat pemikiran Gus Wim semakin kacau balau. Hingga pada akhirnya Gus Wim bertemu Nabi Muhammad SAW melalui mimpi di sekitar jam 3 pagi pada tahun 2002.


Berangkat dari sinilah Gus Wim bertemu dengan Nabi Muhammad SAW di tahun 2002 melalui jalan mimpi di sekitar jam 3 dini hari, telah menjadi sejarah besar bagi perkembangan paradigma pemikiran Gus Wim.


Saat Gus Wim bermimpi Nabi Muhammad SAW di langit dan berjumpa Tuhan Allah SWT di waktu Isra’ Mi’raj.


Gus Wim saat bertemu Nabi Muhammad SAW lewat mimpi terlihat jelas wajah Nabi Muhammad SAW dengan pakaian serba putih dan berparas tampan yang indah sekali. Sedangkan Tuhan Allah SWT hanya nampak terhalang di balik tabir dalam bentuk gumpalan cahaya yang bersinar terang benderang. 


Berangkat dari mimpi Gus Wim bertemu Nabi Muhammad SAW di tahun 2002, akhirnya Gus Wim terus mengkaji Ilmu dari bangsa Timur dan mengkhususkan diri membaca Maha Karya Ibn Khaldun di dalam buku Muqaddimah. Hingga pada akhirnya Gus Wim di akhir kuliah menyusun tugas akhir dengan judul “Relevansi Pemikiran Ibn Khaldun dengan Ekonomi Islam”.


Bahkan Gus Wim sampai hari ini telah menulis 13 buku


1. Buku Sabda Cinta 

2. Buku Geguritan Gaib

3. Buku Kajian KeIslaman Gus Wim, Islam Tradisional, Liberal, Khilafah

4. Buku Sahabat Balai Jogja

5. Buku Mengarungi Tinta Keabadian

6. Buku Negeri Para Penulis

7. Buku Rahasia wanita di balik jilbab

8. Buku Antologi Sang Khutbah (Kritik Nalar Konstruktif)

9. Buku Wanita Mungil Dari Desa (Antara Cinta dan Kasta)

10. Buku Antologi Sajak Yang Terkubur

11. Buku Muqaddimah Kerudung

12. Buku Penyair Barzakh dan Luka

13. Saat ini menghasilkan karya kembali dengan buku yang berjudul “Penyair Agung”


Sekian tulisan singkat Kisah Gus Wim Bertemu Nabi Muhammad SAW ini dan terima kasih atas perhatiannya.

Wednesday, 7 August 2024

Orientalisasi Wajah Pribumi


Orientalisasi Wajah Pribumi adalah fenomena kompleks dan berbagai aspek yang telah banyak terjadi dalam berbagai bentuk sepanjang sejarah. Proses ini melibatkan penggambaran masyarakat pribumi dengan cara yang mengesotisasi, mengadaikan, dan mengobjektifikasi mereka, seringkali memperpetuasi stereotip dan kesalahpahaman tentang budaya, identitas, dan penampilan mereka.


Konsep Orientalisasi memiliki akar dalam kolonialisme Eropa, di mana kekuatan Barat mencoba untuk menegaskan dominasi atas masyarakat non-Barat dengan menggambarkannya sebagai primitif, tidak beradab, dan perlu "dipencerahkan." Hal ini sering melibatkan penggambaran masyarakat pribumi sebagai eksotis dan misterius, menekankan ciri-ciri fisik mereka seperti kulit gelap, fitur wajah "asing," dan pakaian dan hiasan tradisional.


Dalam konteks Asia Tenggara, Orientalisasi Wajah Pribumi telah diamati dalam berbagai bentuk, termasuk dalam sastra, seni, media, dan budaya populer. Masyarakat pribumi di wilayah ini sering digambarkan sebagai "Lainnya," dilihat sebagai berbeda dan inferior dibandingkan dengan budaya Barat atau perkotaan yang dominan. Hal ini dapat memiliki dampak negatif terhadap bagaimana komunitas ini dipandang dan diperlakukan, memperkuat stereotip dan prasangka yang dapat menyebabkan diskriminasi dan marginalisasi.


Salah satu masalah utama dengan Orientalisasi adalah bahwa hal tersebut mengurangi kompleksitas dan keragaman budaya dan identitas pribumi menjadi representasi yang sempit dan seringkali distorsi. Dengan fokus pada penampilan fisik dan aspek-aspek kultural yang dangkal, kekayaan dan kedalaman tradisi, kepercayaan, dan praktik pribumi sering diabaikan atau direpresantasikan secara salah.


Penting bagi kita untuk mengenali dan menantang Orientalisasi Wajah Pribumi, karena hal ini memperpetuasi stereotip berbahaya dan memperkuat ketimpangan kekuatan antara kelompok etnis dan budaya yang berbeda. Dengan mempromosikan penggambaran yang lebih nuansa dan penuh rasa hormat terhadap masyarakat pribumi, kita dapat membantu melawan diskriminasi dan mempromosikan pemahaman.

Orientalisasi Wajah Barat


Orientalism in the Western Face, atau Orientalisasi Wajah Barat, adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan fenomena budaya Barat yang melihat dan menggambarkan budaya Timur melalui lensa yang bias dan seringkali distorsi. Istilah ini diciptakan oleh pakar terkenal Edward Said dalam bukunya yang revolusioner "Orientalism" yang diterbitkan pada tahun 1978, konsep ini menggali kedalaman dinamika kekuatan, stereotip, dan penyajian budaya yang telah lama mendominasi persepsi Barat terhadap Timur.


Salah satu aspek kunci dari Orientalisasi Wajah Barat adalah gagasan Barat yang menempatkan dirinya sebagai superior dan beradab "lain" dalam kontras dengan Timur yang eksotis, primitif, dan misterius. Dikotomi ini terus dipertahankan melalui berbagai bentuk produksi budaya seperti sastra, seni, film, dan media, di mana budaya Timur seringkali diramalkan, difetisisasi, atau dimonikkan demi memenuhi pandangan Barat.


Kepintaran Barat dengan Orient telah berlangsung berabad-abad, didorong oleh kolonialisme, imperialisme, dan keinginan untuk menegaskan dominasi atas Timur yang "barbar" dan "belum beradab". Mentalitas ini telah menyebabkan penciptaan berbagai stereotip Orientalis yang terus membentuk persepsi Barat terhadap budaya Timur hingga saat ini. Contohnya adalah penggambaran perempuan Timur Tengah sebagai tertindas dan patuh yang membutuhkan pembebasan Barat, atau gambaran budaya Asia sebagai tanah mistis dan eksotis yang penuh dengan kearifan kuno dan rahasia.


Lebih lanjut, Orientalisasi Wajah Barat memiliki konsekuensi nyata dalam kehidupan nyata, karena dapat berkontribusi pada penyebaran stereotip berbahaya, xenofobia, dan diskriminasi terhadap individu dari budaya Timur. Dengan mempersempit masyarakat yang beragam dan kompleks menjadi representasi yang terlalu disederhanakan dan monolitik, Orientalisme dapat memperkuat ketidaktahuan dan prasangka, menghambat pemahaman dan dialog lintas budaya.


Secara kesimpulannya, Orientalisasi Wajah Barat adalah sebuah fenomena yang merayap dan berlangsung, yang menyoroti cara budaya Barat secara historis telah memutar dan merusak budaya Timur.