Showing posts with label Ilmu Tauhid. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Tauhid. Show all posts

Wednesday, 27 March 2019

Apa itu Dzat Allah? Beda Dzat dan Zat

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.


Kita sering mendengar istilah “dzat Allah” baik dalam bacaan maupun dari verbal. Lalu apakah istilah Dzat Allah menunjukkan bahwa Allah berupa zat? apakah ia zat padat, cair dan gas?.

Banyak dari kita yang mengalami salah faham terhadap kata yang sekilas mirip, khususnya antara kata dzat yang berasal dari bahasa Arab dengan zat dalam bahasa indonesia.

Perlu difahami terlebih dahulu bahwa memang benar banyak kosa kata bahasa Arab yang diserap dalam bahasa Indonesia. Namun, walaupun diserap dari bahasa Arab hal itu tidak menunjukkan bahwa kosa kata yang mirip itu memiliki makna yang sama dan tidak berarti mereka memiliki definisi etimologi dan terminologi yang sama antara satu sama lain baik dengan bahasa asalnya.

Contohnya seperti kata “hamil", dalam bahasa indonesia kata hamil berarti seseorang yang sedang mengandung. Sedangkan dalam bahasa Arab, “hamil” juga memiliki arti pembawa, pemikul, dan pengangkut.

Contoh lain seperti kata “rahim”, dalam bahasa indonesia rahim adalah anatomi khusus yang dimiliki wanita. Sedangkan dalam bahasa arab, “rahim” itu artinya “penyayang”.

Contoh lain seperti kata “kalimat”, dalam bahasa indonesia kalimat adalah rangkaian kumpulan kata, ada subjek dan prediket. Namun “kalimat atau kalimah” dalam bahasa Arab berarti  “kata”. Sedangkan kumpulan kata dalam bahasa Arab disebut dengan “jumlah”. Padahal dalam bahasa Indonesia jumlah dikaitkan dengan bilangan bukan dengan kata.

Dari sini dapat difahami bahwa tidak semua kata serapan dalam bahasa Arab memiliki makna yang sama dengan bahasa aslinya, yakni bahasa Arab. Termasuk kata Dzat dalam bahasa Arab dan Zat dalam bahasa Indonesia yang sedang dibahas ini.

Pengertian Zat dalam bahasa indonesia atau yang dipakai dalam istilah sains adalah sesuatu yang memiliki masa dan menempati ruang. Kata zat ini lalu diterjemahkan dalam bahasa inggris menjadi matter atau substance. Apabila kata zat yang memiliki makna, sesuatu yang menempati ruang dan memiliki masa ini diterjemahkan dalam bahasa Arab, maka diartikan dengan sebutan “maadah”, bukan kata dzat.

Dengan begitu sudah jelas kata zat dan dzat memiliki makna yang jauh berbeda. Bahkan bisa jadi kata zat ini bukan serapan dari bahasa Arab. Karena kata zat dalam artian suatu materi yang memiliki masa dan menempati ruang ini diterjemahkan dalam bahasa Arab diartikan dengan sebutan maadah bukan Dzat.

Pada tahap ini dapat disimpulkan bahwa kata dzat Allah dalam istilah agama dengan zat yang dipahami dalam sains tidak memiliki makna yang sama. Oleh karena itu, salah jika menyamakan dzat Allah dengan zat seperti zat padat, cair maupun gas. 

Kalau begitu maka kata dzat ini memiliki makna tersendiri. Lalu Apas makna dari kata dzat, dan apa yang dimaksud dengan dzat Allah itu?

Menurut seorang pakar Leksikografi/Linguistik Arab yang bernama Louis Ma’luf, seorang Arab Kristen Katolik asal Lebanon dalam karyanya yang berjudul Kamus al-Munjid fil Lughah wal ‘Alam halaman 16 (terbitan Lebanon: Dar al-Masyriq, 1986), beliau mengatakan bahwa Allah: ismu al-Dzat al-Wajib-ul-Wujud (Allah itu adalah suatu nama dzat Yang Maha Ada yang menyebabkan segala sesuatu menjadi ada (the name of the dzat as Causa Prima).

Louis Ma’luf mendefinisikan bahwa lafaz Allah adalah nama Dzat, lalu apa itu Dzat?

Seorang ahli Linguistik Arab asal Jerman yang bernama Hans Wehr dan beragama Kristen Protestan dalam karyanya yang berjudul A Dictionary of Modern Written Arabic, halaman 314-315 (terbitan Munster, 1960) mengatakan bahwa istilah dzat dalam bahasa Arab artinya being, essence, nature, self: person, personality. Artinya kata dzat merupakan penyebutan kepada sebuah esensi, personal, pribadi atau sosok dan bukan penyebutan kepada sebuah materi yang memiliki masa dan menempati ruang.

Berdasarkan penjelasan dari dua pakar bahasa Arab yang berlatar bangsa Arab dan bangsa Barat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kata dzat bahasa arab sungguh jauh-jauh berbeda dengan zat dalam bahasa Indonesia.

Sehingga jika anda ungkapan seperti kalimat “Ar-rahman adalah sifat dari dzat Allah” itu makna kalimatnya sepert “ar-rahman adalah sifat dari personal, pribadi atau sosok Allah itu”. Sehingga kata dzat sama sekali tidak merujuk kepada penyebutan materi yang memenuhi ruang dan memiliki masa seperti zat padat, cair dan gas. Melainkan kata dzat ini merupakan penyebutan kepada sebuah atau suatu esensi pribadi dan personal itu sendiri.

Jika ada misionaris ataupun siapa yang mengatakan bahwa: “Tuhan kami berwujud roh, tuhan kalian berwujud zat”. Setidaknya kita sudah faham bahwa dzat yang dimaksud berbeda dengan makna zat dalam istilah sains.

Dalam Islam mengatakan bahwa Tuhan itu berjuwud roh merupakan bentuk penghinaan terhadap tuhan itu sendiri sebagaimana firmannya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuura: 11)

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah itu tidak serupa dengan apapun ciptaanya, termasuk roh. Karena roh adalah ciptaan (makhluk), sedangkan pencipta (khaliq) tidak sama dengan makhluk. Maka tentu Allah tidak berwujud dengan wujud roh, sebab roh adalah ciptaanya sedangkan Allah adalah sang pencipta dan tidak ada yang menciptakan Allah serta tidak ada yang setara dengan dzat atau dengan esensi dan pribadi Allah itu sendiri, dengan apapun.

Oleh karena itu mengatakan bahwa tuhan berwujud roh dalam keimanan Islam merupakan bentuk penghinaan kepada Tuhan itu sendiri, sebab Allah sendiri yang mengatakan bahwa ia tidak serupa dengan apapun dari ciptaannya termasuk roh.

Lalu bagaimanakah wujud Allah? wallahualam, Allah tidak pernah menjelaskan bagaimana wujudnya secara spesifik, karena manusia tidak akan dapat memahami bentuk esensi dari dzat Allah itu sendiri. Karena manusia adalah ciptaanNya dan akal manusia dibatasi untuk memahami apalagi mengimajinasikan segala sesuatu yang tidak dapat diinderakan, bahkan surga sekalipun. Sehebat apapun imajinasi tentang surga, maka tidak akan dapat benar-benar memahami bagaimana kemegahan surga itu, apalagi untuk mengimajinasikan keagungan Allah.




Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Tuesday, 4 December 2012

Makalah Ilmu Tauhid (Fiqh)

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.


BAB II
Macam-Macam Tauhid
Tauhid Uluhiyah & Rububiyah
 
A.Tauhid Uluhiyah
1.Pengertian 
Uluhiyah adalah ibadah, Yaitu segala ibadah yang mengesakan Allah dengan perbuatan para hamba berdasarkan niat taqarrub yang disyariatkan seperti doa, nazar, kurban, raja' (pengharapan), takut, tawakal, raghbah (senang), rahbah (takut), dan inabah (kembali/tobat). Jenis tauhid inilah yg merupakan inti dakwah para rasul mulai rasul yg pertama hingga yg terakhir.

2.Dalil
Semua utusan Allah (rasul) berdakwah kepada tauhid uluhiyah dan mengikhlashkan ibadah semata kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hal ini dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sesungguhnya, Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.’” (Qs. an-Nahl/16: 36)

Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّنُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلآ أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.’” (Qs. al-Anbiya`/21: 25)

Demikian juga banyak ayat turun menjelaskan individu para rasul yang menyeru kaumnya kepada tauhid uluhiyah, sebagai contoh adalah:
Nabi Nuh yang dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَالَكُم مِّنْ إِلاَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata, ‘Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa adzab hari yang besar (kiamat).’” (Qs. al-A’raf/7: 59)
Nabi Hud yang dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَالَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلاَ تَتَّقُونَ
“Dan (kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata, ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka, mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” (Qs. al-A’raf/7: 65)

Allah berfirman di dalam Al Qur’an:

“Hanya kepada-Mu ya Allah kami menyembah dan hanya kepada-Mu ya Allah kami meminta.” (QS. Al Fatihah: 5)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah membimbing Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu dengan sabda beliau:

“Dan apabila kamu minta maka mintalah kepada Allah dan apabila kamu minta tolong maka minta tolonglah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)
Allah berfirman:

“Dan sembahlah Allah dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun” (QS. An Nisa: 36)
Allah berfirman:
“Hai sekalian manusia sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al Baqarah: 21)
            
3.Pengertian Dalil
Dari dasar ini jelas nampak dua perkara:
Pada asalnya bani Adam bertauhid dengan benar dan itu berlalu sampai sepuluh abad antara Nabi Nuh dengan Nabi Adam.

kesyirikan yang terjadi pada manusia adalah kesyirikan dalam uluhiyah.

Setelah jelas dua hal ini, nampaklah para rasul diutus untuk mengajak manusia untuk bertauhid uluhiyah dengan benar dengan cara beribadah hanya kepada Allah dan tidak kepada selain-Nya. Dari sini, jelaslah kewajiban pertama seorang hamba adalah mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tauhid uluhiyah, ditambah lagi adanya dalil-dalil yang menunjukkan manusia dilahirkan dalam keadaan fithrah.

Setiap orang yang belum mengakui keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala harus didakwahi pertama kali untuk mengakui hal ini yang akan menjadi sarana untuk mengakui peribadatan hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak pantas diberikan kepada selain-Nya. Dengan demikian, kewajiban mengakui adanya Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi sarana mengetahui kewajiban yang inti yaitu tauhid uluhiyah, sebab pengakuan Allah saja tidak cukup.

Dengan ayat-ayat dan hadits di atas, Allah dan Rasul-Nya telah jelas mengingatkan tentang tidak bolehnya seseorang untuk memberikan peribadatan sedikitpun kepada selain Allah karena semuanya itu hanyalah milik Allah semata.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Allah berfirman kepada ahli neraka yang paling ringan adzabnya. ‘Kalau seandainya kamu memiliki dunia dan apa yang ada di dalamnya dan sepertinya lagi, apakah kamu akan menebus dirimu? Dia menjawab ya. Allah berfirman: ‘Sungguh Aku telah menginginkan darimu lebih rendah dari ini dan ketika kamu berada di tulang rusuknya Adam tetapi kamu enggan kecuali terus menyekutukan-Ku.” ( HR. Muslim dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu )

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Allah berfirman dalam hadits qudsi: “Saya tidak butuh kepada sekutu-sekutu, maka barang siapa yang melakukan satu amalan dan dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku maka Aku akan membiarkannya dan sekutunya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu ).

4. Tujuan diciptakan manusia untuk ubudiyah uluhiyah
Tujuan dari penciptaan manusia adalah untuk ibadah.
Hal ini dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Qs. adz-Dzariyaat/51: 56)

Dalam ayat yang mulia ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan penciptaan manusia untuk tujuan ibadah, oleh karena itu perintah pertama kepada manusia adalah perintah ibadah dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (Qs. al-Baqarah/2: 21)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak manusia untuk mengucapkan syahadatain.
Hadits-hadits tentang hal ini sangat banyak hingga Abul Muzhaffar as-Sam’aani rahimahullah (wafat tahun 489 H) menyatakan,
“Hadits-hadits yang menjelaskan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak orang-orang kafir kepada Islam dan syahadatain sudah mutawatir.” (Mukhtashar al-Intishaar Liahlil Hadits – ada dalam kumpulan kitab Shaun al-Mantiq, karya Imam as-Suyuthi, hal. 172)

Di antara hadits-hadits tersebut adalah:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ فَمَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ فَقَدْ عَصَمَ مِنِّى مَالَهُ وَنَفْسَهُ إِلاَّ بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga menyatakan ‘Laa Ilaaha Illa Allah’. Maka, siapa yang menyatakan ‘Laa Ilaaha Illa Allah’ maka telah melindungi harta dan jiwanya dariku, kecuali dengan haknya dan hisabnya ada pada Allah.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Hingga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepada sahabat yang mulia Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu ketika mengutusnya ke Yaman dengan wasiat yang berbunyi:
إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى
“Sesungguhnya kamu akan mendatangi satu kaum dari ahli kitab, maka hendaknya ajakan kamu kepada mereka yang pertama adalah mengajak mereka bertauhid.” (Muttafaqun ‘alaihi dan lafadznya adalah lafadz al-Bukhari)

Sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri ketika membai’at para sahabatnya, baik yang lelaki, maupun yang wanita mengawali bai’atnya dengan ucapan:

بَايِعُونِي عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا
“Berbai’atlah kalian untuk tidak berbuat syirik kepada Allah.” (HR al-Bukhori, lihat Fathu al-Baari 1/64)

5. Contoh Penyimpangan dari Uluhiyah
Contoh penyimpangan uluhiyah Allah di antaranya ketika seseorang mengalami musibah di mana ia berharap bisa terlepas dari musibah tersebut. Lalu orang tersebut datang ke makam seorang wali, atau kepada seorang dukun, atau ke tempat keramat atau ke tempat lainnya. Ia meminta di tempat itu agar penghuni tempat tersebut atau sang dukun, bisa melepaskannya dari musibah yang menimpanya. Ia begitu berharap dan takut jika tidak terpenuhi keinginannya. Ia pun mempersembahkan sesembelihan bahkan bernadzar, berjanji akan beri’tikaf di tempat tersebut jika terlepas dari musibah seperti keluar dari lilitan hutang. Inilah yang disebut dengan syirik dan bertanghut karena hanya cukup kepada Allah kita meminta.

6.Kesimpulan
Jadi Tauhid uluhiyah adalah ubudiyah(ibadah) yang mengesakan Allah dan meminta kepada Allah guna untuk mentaqarrub(mendekatkan diri) kepada Allah dengan ibadah-ibadah taqarrub, seperti: doa, nazar, kurban, raja' (pengharapan), takut, tawakal, raghbah (senang), rahbah (takut), dan inabah (kembali/tobat).

Sumber:
Wikipedia. .09-08-2011
Apa arti hidup. .09-08-2011


B.Rububiyah
1.Pengertian Tauhid Rububiyah
Yaitu menyakini bahwa Allah adalah Dzat yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rizki, mendatangkan segala mamfaat dan menolak segala mudharat. Dzat yang mengawasi, mengatur, penguasa, pemilik hukum dan selainnya dari segala sesuatu yang menunjukkan kekuasaan tunggal bagi Allah. Dari sini, seorang mukmin harus meyakini bahwa tidak ada seorangpun yang menandingi Allah dalam hal ini. Allah mengatakan: “’Katakanlah!’ Dialah Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya sgala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya.” (QS. Al Ikhlash: 1-4). Ini semua karena petunjuk Allah Ta'ala, kemudian karena dalil-dalil wahyu seperti berikut.

Dalil-Dalil Wahyu
Firman Allah SWT (yang artinya) sebagai berikut.
  • "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam." (Al-Fatihah: 2). 
  • "Katakanlah: 'Siapakah Tuhan langit dan bumi?' Katakan: 'Allah'." (Ar-Ra'du: 16). 
  • "Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kalian orang-orang yang meyakini. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan. (Dialah) Tuhan kalian dan Tuhan bapak-bapak kalian yang terdahulu." (Ad-Dukhan: 7-8). 
  • "Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), 'Bukankah Aku ini Tuhan kalian?' Mereka menjawab, 'Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi'." (Al-A'raaf: 172) 
  • "Katakanlah, 'Siapakah Pemilik langit yang tujuh dan pemilik Arasy yang besar?' Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah. Katakanlah, 'Maka apakah kalian tidak bertakwa'?" (Al-Mukminun: 86-87). 
  • Penjelasan para nabi dan para rasul tentang rububiyah Allah Ta'ala. 
  • Adam a.s. berkata dalam doanya, "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (Al-A'raaf: 23). 
  • Nabi Nuh a.s. berkata dalam keluhannya kepada Allah Taala, "Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku, dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka." (Nuh: 21). 
  • Nabi Nuh a.s. berkata dalam doanya kepada Allah Ta'ala, "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku. Maka, adakanlah keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang Mukmin besertaku." (As-Syu'ara': 117-118). 
  • Nabi Ibrahim a.s. berkata dalam doanya untuk Makkah, dirinya dan anak keturunannya, "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. (Ibrahim: 35). 
  • Nabi Yusuf a.s.berkata dalam pujiannya kepada Allah Ta'ala, dan doanya kepada-Nya, "Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian ta'bir mimpi. (Ya Tuhan), Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shalih." (Yusuf: 101). 
  • Nabi Musa a.s.berkata dalam salah satu permintaanya, "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku. Dan mudahkanlah untukku urusanku. Dan lepaskanlah kekuatan dari lidahku. Supaya mereka mengerti perkataanku. Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku." (Thaha: 25-29). 
  • Nabi Harun a.s. berkata kepada Bani Israel, "Sesungguhnya Tuhan kalian ialah (Tuhan) Yang Maha Pemurah, maka ikutilah aku dan taatilah perintahku." (Thaha: 90). 
  • Nabi Zakaria a.s. berkata dan permintaan belas-kasihan olehnya kapda Allah Ta'ala, "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban. Dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada kepada Engkau, ya Tuhanku." (Maryam: 4). 
  • Nabi Zakaria a.s. juga berkata dalam doanya yang lain, "Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan akuk hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik." (Al-Anbiya: 89). 
  • Nabi Isa a.s. berkata dalam responnya terhadap Allah Ta'ala, "Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadakuk (mengatakan)nya yaitu, 'Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian'." (Al-Maidah: 117). 
  • Nabi Isa a.s. berkata kepada kaumnya, "Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhan kalian, sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun." (Al-Maidah: 72). 
Konsekuensi Tauhid Rububiyah
Jika seseorang meyakini bahwa ada sesuatu yang dapat setara dan setingkat dengan Allah dan memiliki kemampuan ketuhanan, maka ia telah mendhalimi dan musyrik sebab meyekutukan Allah.
Sikap Jahiliyah dalam Tauhid Rububiyah
Dalam masalah rububiyah Allah sebagian orang kafir jahiliyah tidak mengingkarinya sedikitpun dan mereka meyakini bahwa yang mampu melakukan demikian hanyalah Allah semata. Mereka tidak menyakini bahwa apa yang selama ini mereka sembah dan agungkan mampu melakukan hal yang demikian itu. Lalu apa tujuan mereka menyembah Tuhan yang banyak itu? Apakah mereka tidak mengetahui jikalau ‘tuhan-tuhan’ mereka itu tidak bisa berbuat apa-apa? Dan apa yang mereka inginkan dari sesembahan itu?

Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.