Aku tidak pernah menyangka bahwa hidupku akan berubah hanya karena sebuah tulisan di beranda media sosial. Saat itu aku adalah seseorang yang sering mempertanyakan segala hal—tentang hidup, tentang Tuhan, bahkan tentang makna iman. Pikiran-pikiranku sering dianggap terlalu bebas, terlalu berani, bahkan kadang disebut menyimpang.
Suatu hari aku membaca sebuah status dari seorang perempuan. Tulisannya sederhana, namun terasa tenang. Tidak ada nada menggurui, tidak ada kata yang menekan. Hanya kalimat-kalimat lembut tentang kehidupan dan keikhlasan.
Aku ikut menanggapi tulisan itu. Awalnya hanya sebuah komentar. Namun komentar itu berkembang menjadi diskusi. Pemikiran-pemikiranku yang cenderung skeptis sering muncul di sana. Kadang aku menulis dengan nada kritis, kadang pula dengan pertanyaan-pertanyaan yang tajam.
Tak lama kemudian, perdebatan muncul di beranda itu. Banyak orang yang tidak sepakat dengan pandanganku. Mereka menuduhku mencari perhatian, bahkan ada yang mengatakan aku hanya ingin terlihat pintar di depan perempuan itu.
Namun di tengah keramaian perdebatan itu, dia selalu menjawab dengan cara yang berbeda.
Tenang.
Lembut.
Dan penuh keindahan kata.
Jawabannya tidak pernah menyerang. Tidak pernah merendahkan. Ia menulis seperti seseorang yang sedang menenangkan hati orang lain.
Sejak saat itu, percakapan kami tidak lagi hanya terjadi di kolom komentar. Aku memberanikan diri mengirim pesan pribadi kepadanya. Aku menulis permohonan maaf atas kata-kataku yang mungkin terlalu keras atau menyinggung.
Ia membalas pesanku.
Dan balasannya begitu puitis.
Kalimat-kalimatnya mengalir seperti doa yang ditulis dengan tinta keikhlasan. Kata-katanya mengingatkanku pada tulisan para sufi yang pernah kubaca—indah, sederhana, namun menyentuh bagian terdalam dari hati manusia.
Sejak saat itu, kami sering saling berkirim pesan.
Aku mulai menunggu balasannya setiap hari.
Aneh rasanya. Kami tidak pernah bertemu. Bahkan aku tidak pernah mendengar suaranya. Namun dari tulisan-tulisannya, aku merasa mengenalnya lebih dekat daripada banyak orang yang pernah kutemui.
Suatu hari dia menulis sesuatu yang membuatku terdiam lama.
Ia meminta aku membuat sebuah puisi.
Aku tidak tahu mengapa ia meminta itu kepadaku. Mungkin karena ia melihat bahwa aku menyukai kata-kata. Atau mungkin ia hanya ingin melihat bagaimana hatiku menulis sesuatu.
Malam itu aku menulis sebuah puisi.
Judulnya: “Aku Sang Pendamba Bidadari.”
Puisi itu lahir dari perasaan yang bahkan saat itu belum berani kuakui sepenuhnya. Tentang seseorang yang hadir seperti cahaya di tengah kegelisahan hidupku. Tentang seseorang yang membuat hatiku yang dulu penuh keraguan mulai mengenal ketenangan.
Puisi itu kemudian kusimpan.
Bahkan aku menjadikannya sebuah buku kecil dan aku terbitkan buku itu, Hanya untuk mengenang kisah yang entah mengapa terasa begitu berarti bagiku.
Namun hidup selalu berjalan mengikuti jalannya sendiri.
Suatu hari aku membaca sebuah status darinya.
Ia bercerita tentang sebuah perjodohan yang diinginkan oleh abahnya. Dari kalimat-kalimatnya aku bisa merasakan sesuatu—seperti ada keraguan, seperti ada kebimbangan yang disembunyikan di antara kata-kata yang tetap terlihat tenang.
Aku membaca status itu berulang-ulang.
Hatiku terasa aneh.
Aku sadar, sejak awal aku sudah tahu bahwa kisah ini mungkin tidak akan pernah menjadi takdirku. Ia adalah anak seorang ulama besar. Hidupnya berada di jalan yang berbeda dengan hidupku.
Namun tetap saja, ketika akhirnya ia menulis bahwa ia menerima pilihan abahnya, ada sesuatu di dalam hatiku yang terasa kosong.
Kami tidak pernah bertemu.
Kami tidak pernah berjalan bersama.
Namun entah mengapa, aku merasa seperti kehilangan sesuatu yang pernah sangat dekat.
Hari itu aku membuka kembali buku kecil yang pernah kutulis.
Di halaman pertama tertulis judul yang dulu kubuat dengan penuh perasaan:
“Aku Sang Pendamba Bidadari.”
Kini aku mengerti sesuatu.
Tidak semua orang yang kita temui ditakdirkan untuk kita miliki. Ada yang hanya datang untuk mengubah arah hidup kita, lalu pergi mengikuti jalannya sendiri.
Dan mungkin, dialah bidadari yang tidak pernah ditakdirkan untuk kupeluk—namun ditakdirkan untuk membuat hatiku belajar tentang keindahan, tentang ketenangan, dan tentang melepaskan dengan ikhlas.
Di antara semua kenangan itu, satu hal yang masih tersisa hingga hari ini:
Kami tidak pernah bertemu.
Namun kisah itu tetap hidup di dalam sebuah buku kecil yang pernah kutulis—sebagai saksi bahwa pernah ada seseorang yang hadir dalam hidupku hanya lewat kata-kata… namun meninggalkan jejak yang begitu dalam di hati.






