Monday, 8 April 2019

Berapa Lama Saham Anda Bisa Naik?

Fluktuatifnya pasar saham membuat saham-saham yang anda tradingkan kemungkinan besar akan bergerak naik dan turun. Bisa saja saham yang anda beli langsung naik. Bisa saja saham yang anda beli turun dulu baru naik. Bisa saja saham yang yang anda beli sideways dulu, sebelum menemukan arah tren yang baru. 

Pertanyaannya, kalau saham yang anda beli naik, berapa lama jangka waktu saham anda bisa naik? Apakah ketika anda beli saham, katakanlah, ACES hari ini, apakah ACES bisa naik sampai satu minggu? Dua minggu? Satu bulan? Atau bahkan naiknya cuma bertahan satu hari saja lalu turun lagi? 

Pertanyaan2 tentang 'berapa lama saham bisa naik setelah dibeli' sering sekali saya terima dari rekan2 trader. Oleh karena itu, anda perlu memahami praktiknya. 

Kalau anda tanya berapa lama saham yang anda beli bisa naik, jawabannya bisa ada dua: 

1. Strategi (analisa saham) yang anda pakai

Jika anda menggunakan analisa2 untuk swing trading, maka saham2 yang anda pegang akan naik lebih lama ketimbang anda menggunakan analisa khusus untuk trading harian. Saya pernah membahas strategi2 trading (baik swing trading, trading harian dan lain2) disini: Buku Pilihan Trader Saham Terbaik. 

Selain itu, harus anda pahami juga bahawa tipe suatu saham juga bisa mempengaruhi. Saham2 lapis tiga mungkin bisa naik hanya dalam sehari-dua hari. Tetapi saham2 yang lebih likuid, chartnya lebih bagus, kemungkinan besar harga sahamnya bisa naik lebih lama dan smooth daripada saham2 gorengan.  

2. Pengaruh kondisi market

Tetapi ada poin yang lebih penting daripada strategi trading maupun tipe saham itu sendiri. Apakah itu? Jawabannya adalah: KONDISI MARKET.

Cepat lamanya suatu saham bisa naik, sebenarnya bisa sangat tergantung dari kondisi market yang terjadi saat itu (kondisi market disini adalah IHSG secara global, dan juga pengaruh kondisi Bursa luar negeri).       

Pada saat kondisi IHSG lagi bearish, market lagi sepi, pelaku pasar lagi banyak wait and see, kondisi IHSG lagi penuh ketidak-pastian, maka umumnya saham2 lebih banyak yang naik sesaat karena faktor technical rebound. 

Karena kondisi market lagi jelek, saham2 tersebut hanya naik beberapa saat (entah sehari-tiga hari), lalu tidak lama kemudian turun lagi. 

Sebaliknya, ketika kondisi market lagi strong bullish, banyak sentimen2 positif, pelaku pasar sedang optimis2nya dengan IHSG, maka saham2 bisa naik lebih lama. Terutama saham2 lapis satu dan dua yang sudah terdiskon banyak, bisa naik diatas satu minggu. Banyak contohnya, seperti saat IHSG pasca momen Pilpres 2014, Tax Amnesty, January Effect dan lain2. 

Terutama saham2 kelas 'ekslusif' seperti saham2 blue chip yang harganya lagi turun-turunnya, ketika market lagi bagus, saham2 tersebut bisa naik dengan jangka waktu yang lebih lama. 

Jadi anda mungkin bisa menggunakan strategi trading yang sama, analisa yang sama, tapi kalau kondisi marketnya berbeda, maka jangka waktu kenaikan saham anda tetap bisa bervariasi.

Di pos ini: Trading di Saham Breakout, saya juga sudah menuliskan beberapa skenario market yang terjadi, yang bisa mempengaruhi lama tidaknya saham2 bisa naik setelah breakout. Tapi untuk pos ini, kita nggak cuma berbicara tentang saham breakout, tapi saham naik secara keseluruhan (baik breakout, technical rebound, penerusan tren dan lain2). 

MENJADI TRADER YANG FLEKSIBEL 

Banyak trader yang selalu ingin membeli saham, dan mematok target bahwa sahamnya harus naik dalam seminggu, dua minggu barulah realisasi take profit. 

Nggak ada salahnya anda punya target2 seperti itu. Namun, lebih baik jika anda harus fleksibel juga ketika menetapkan target2 trading anda. Dalam arti, anda perlu juga untuk menganalisa kondisi IHSG saat trading. 

Kalau anda biasanya bisa beli saham dan selalu berhasil hold saham seminggu-dua minggu, lalu anda jual untung puluhan persen, target anda kemungkinan besar akan MELESET ketika kondisi market lagi strong bearish, atau ketika market lagi sepi (wait and see). 

Nah, kalau kondisi market masih bearish, pilihan yang lebih tepat adalah strategi 'hit and run', strategi akumulasi atau untuk anda yang memang masih benar2 tidak yakin, maka anda bisa wait and see, nggak usah terburu memaksakan bei saham dalam jumlah besar.  

Terkait menganalisa kondisi IHSG ini, seiring dengan berjalannya waktu, anda pasti nanti akan bisa merasakan kondisi IHSG strong bullish itu seperti bagaimana, kondisi IHSG lagi sepi, maupun IHSG yang lagi lesu.

Pelajaran berharga di pos ini: Kalau anda trading, jangan lupamkan kondisi IHSG, karena kondisi IHSG cukup berpengaruh terhadap saham (kecuali kalau anda trading di saham2 lapis tiga).  

Sunday, 7 April 2019

Berapa Harga Saham Per Lot?

Ketika anda beli saham, anda harus membeli saham dalam satuan lot (minimal beli saham adalah 1 lot, dan 1 lot = 100 lembar saham). Banyak rekan-rekan trader pemula yang bertanya: Berapa harga saham per lot? Baca juga: Jumlah Minimal Lot untuk Beli Saham. 

Berapa uang yang harus kita keluarkan untuk membeli saham satu lot saham? Untuk menjawab pertanyaan2 mengenai mekanisme perdagangan saham ini, maka saya akan membahasnya di pos ini.. 

Harga saham per lot sangat bervariasi. Ada yang harganya Rp500 per saham. Ada yang harganya Rp3.000 per saham. Ada yang harganya Rp10.000 per saham. Tetapi harga saham paling rendah di pasar saham adalah Rp50 per saham. 

Jadi di pasar saham reguler, anda tidak akan pernah menemukan harga saham per lot dibawah Rp50. Namun kita bicara dalam konteks pasar saham reguler. Untuk pasar saham tunai, saham per lot harganya bisa lebih rendah dari Rp50 per lembar. Anda bisa baca disini tentang pasar non-reguler: Pasar Reguler, Pasar Negosiasi dan Tunai di Bursa Saham.

Nah jumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) ada 600 lebih, dan bahkan jumlahnya akan terus bertambah. Maka dari itu, sudah pasti setiap saham memiliki harga yang berbeda-beda, yang bergerak naik dan turun setiap saat.

Sebagai contoh, 1 lot saham Indofood mungkin harganya Rp7.000 per lembar. Sedangkan saham Unilever 1 lot-nya adalah Rp47.000. Saham HM Sampoerna 1 lot adalah Rp3.800 dan seterusnya. 

Kenapa harga saham bisa berbeda-beda? Ada beberapa faktor. Pertama, harga IPO setiap saham berbeda-beda tergantung kebijakan perusahaan. Harga IPO saham A bisa saja Rp500. Sedangkan harga IPO saham B Rp4.500. 

Inilah yang menyebabkan harga saham bervariasi ketika dilepas ke pasar saham. Faktor kedua yang menyebabkan harga saham berbeda adalah karena: Mekanisme perdagangan murni. 

Maksudnya adalah, harga saham bergerak naik turun, karena diperdagangkan oleh trader. Saham yang kinerjanya bagus dan likuid, pasti akan banyak dibeli sehingga harganya naik. 

Sebaliknya, saham yang kinerjanya jelek, maka harga sahamnya akan banyak dijual, sehingga harganya cenderung turun. Baca juga: Dari Mana Asal Terbentuknya Harga Saham? 

Karena adanya mekanisme perdagangan inilah yang menyebabkan harga saham per lot bisa berbeda-beda untuk setiap saham. 

Pos ini menuju suatu kesimpulan bahwa harga saham per lot berbeda-beda. Tetapi di pasar reguler, harga saham per lot paling rendah adalah Rp50 per saham (tidak ada harga maksimal). 

Yang menyebabkan harga saham per lot berbeda-beda tiap saham adalah harga IPO awal saham, dan dikarenakan murni transaksi perdagangan saham yang dilakukan oleh pelaku pasar (trader saham). 

Software untuk Analisa Tape Reading Saham

Beberapa waktu lalu saya pernah dapat pertanyaan dari trader yang sedang mencoba menerapkan intraday trading. Trader tersebut bertanya tentang analisa tape reading, berikut pertanyaanya (melalui Facebook Belajar Saham):



"Kalau trading dengan teknik Tape Reading (TR) apakah bisa pakai android atau harus pakai PC pak?"

Tentu saja bisa dua-duanya. Karena kalau anda sudah buka akun di sekuritas, tiap software online trading pasti menyediakan software yang khusus digunakan di PC / laptop dan smartphone. Anda tinggal instal saja softwarenya di situs resmi sekuritas.  

Catatan: Kalau anda mau melakukan analisa TR, anda cukup menggunakan software trading dari sekuritas. Anda tidak perlu membeli software2 khusus untuk memantau bid-offer suatu saham. Kalau anda belum tahu cara buka akun di sekuritas, anda bisa download materi gratis yang saya terbitkan disini: Ebook Gratis Panduan Membeli Saham Bagi Pemula.  

Seperti yang saya tuliskan tadi, analisa TR bisa saja dilakukan melalui smartphone dan PC. Sama seperti ketika anda memantau saham, cek grafik semua bisa dialkukan di smartphone. Demikianpun dengan analisa TR. 

Tapi... 

Khusus buat analisa TR saya menyarankan agar anda melakukan analisa melalui PC atau minimal laptop. Jangan melalui smartphone.. 

"Kenapa Pak Heze?" Tanya anda penasaran 

Analisa TR itu membutuhkan fokus, karena anda harus melihat pergerakan, serta menganalisa kekuatan bid dan offer di suatu saham. Bid-offer saham juga berubah dari waktu ke waktu (selama jam trading). Jadi anda butuh untuk melihat dan mengamati perubahan2 yang ada di bid offer saham. 

Apalagi kalau anda mau menganalisa, mengamati, membandingkan bid-offer lebih dari satu saham, maka anda akan jauh lebih mudah mengamatinya melalui PC.  

Pengambilan keputusan beli saham dari analisa TR, juga harus didukung dengan grafik (chart)-nya. Jadi, selain melihat bid-offer, anda harus lihat juga chart grafiknya (candlesticknya saat itu, support-resisten, tren dan lain2).  

Artinya, anda membutuhkan tampilan layar yang lebih mendukung untuk analisa anda. Tampilan layar ini sangat berpengaruh pada pengambilan keputusan trading. 

Layar yang sempit akan menyulitkan anda untuk memantau bid-offer saham, sekaligus mengamati chart-nya. Namun hal ini akan jauh lebih mudah dilakukan di PC / laptop. Saya juga mengalaminya sendiri. 

Jadi, anda yang ingin melakukan analisa TR, saya sarankan agar anda melakukan analisa ini melalui PC atau minimal laptop. Tampilan smartphone terlalu kecil (sempit) untuk analisa bid-offer. Kecuali kalau anda hanya memantau harga saham (persentase naik-turunnya), atau sekedar lihat chart, maka nggak masalah anda pakai smartphone. 

Analisa TR ini biasanya dilakukan untuk analisa trading jangka pendek, lebih tepatnya time frame intraday trading. Untuk analisa TR, dan cara mencari saham-saham yang bagus untuk trading harian, saya membahas praktik2 lengkapnya disini: Ebook Intraday & One Day Trading Saham (357 halaman).

Anda yang mau trading harian dengan memilih saham2 yang likuid, pergerakannya bagus plus anda yang ingin mendalami praktik2 langsung analisa TR, anda bisa mendapatkan praktik2nya di Ebook Intraday & One Day Trading tersebut.   

Kalau anda ingin lebih paham mengenai gambaran tape reading di saham, anda bisa baca-baca tulisan saya disini: Teknik dan Analisa Tape Reading Saham, dan Analisa dan Fakta Tape Reading Saham.         

Friday, 5 April 2019

Perbedaan Psikologis Trading Saham dan Forex

Saya sering mendapat pertanyaan tentang saham dan forex. Terutama banyak juga rekan2 trader yang meminta saran apakah sebaiknya trading di saham atau forex? Mana yang psikologisnya lebih tenang, di saham atau forex? 

Dan masih banyak pertanyaan lainnya. Di pos2 sebelumnya, anda bisa baca disini: Perbandingan Risiko Saham dan Forex, saya sudah membahas tentang perbedaan saham dan forex. Maka di pos ini sekarang, saya akan lebih banyak membahas tentang perbandingan psikologis saham dengan forex, karena ini juga cukup penting. 

PSIKOLOGIS SAHAM  VS FOREX

Pergerakan harga saham lebih variatif dibandingkan forex. Ada saham2 yang naik-turunnya lebih stabil. Ada saham2 yang bahkan nyaris nggak gerak (di support itu-itu aja). Ada saham2 yang naik-turunnya bisa sampai diatas 10% dan terjadi dalam hitungan menit (yang saya maksud saham gorengan). 

Sedangkan hampir semua mata uang di forex, pergerakannya sangat likuid, sangat cepat dan volatilitas tinggi. Walaupun ada pasangan mata uang tertentu yang pergerakannya lebih cepat, tetapi secara umum volatilitas di pasar forex sangat tinggi. 

Maka untuk anda yang TIDAK MENYUKAI RISIKO TINGGI, saham bisa memberikan psikologis yang lebih tentang ketimbang forex, DENGAN CATATAN, anda juga harus memilih saham2 yang layak untuk trading. 

Jangan pilih saham2 yang volatil itu tadi (saham gorengan), atau saham2 yang trennya tidak jelas secara teknikal.  

Cara-cara memilih saham yang bagus secara analisa teknikal, anda bisa dapatkan praktik dan strategi2nya disini: Buku Saham.

Nggak masalah anda mau trading harian / intraday, atau time frame trading anda lebih panjang, selama anda memilih saham2 yang likuid, dan pergerakannya bagus, maka psikologis anda bisa lebih baik.  
Baca juga: Strategi Memilih Saham Harian. 

Itu artinya, untuk anda trader yang mau mencari pergerakan harga yang fluktuatifnya lebih bagus, maka saya menyarankan anda untuk memilih saham. 

Bagaimana dengan forex? Seperti yang saya tuliskan, forex punya volatilitas harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan saham. Pasar forex yang jauh lebih likuid dibandingkan saham, bisa membuat mata uang naik-turun jauh lebih cepat dibandingkan harga saham. 

Jadi di forex, anda benar2 harus punya kesiapan psikologis yang matang.  Jangan sampai anda mau untung cepat di forex, anda menjadi serakah. 

Dari pengalaman saya pribadi, psikologis ketika trading forex harus lebih kuat dibandingkan saham, harus disiplin cut loss jauh lebih ketat. Demikian juga dengan memasang target take profit. Meskipun di saham, anda juga harus punya psikologis yang baik. 

Tetapi karena pasar forex itu sangatlah fluktuatif, maka level disiplin anda pun harus sangat tinggi. Di pasar forex tidak ada namanya auto reject seperti saham. Harga forex bisa turun sebebas-bebasnya. 

Di pasar forex, tidak ada namanya dividen. Jadi kalau anda nyangkut di forex, anda tidak akan dapat apa2. Tapi kalau saham yang anda beli turun, dan sahamnya bagus, anda masih punya kesempatan dapat dividen, plus harga saham lebih mudah balik dalam jangka tertentu (asalkan anda membeli dengan momentum yang tepat). 

Saya pribadi pernah menjadi pemain forex tapi tidak lama. Alasannya? Karena saya tidak bisa fokus di dua 'tempat'. Saya lebih fokus untuk memilih saham, supaya saya bisa profit lebih konsisten. 

Apalagi menurut saya pribadi, saham lebih baik dibandingkan forex (terutama buat investasi), karena di saham kita nggak cuman bicara mata uang, tapi kita bisa beli perusahaan yang bagus-bagus, dapat dividen dan sebagainya. 

Karena saya saat ini adalah murni pebisnis saham (trading dan juga investasi), saya sering dapat saran untuk main forex saja, karena lebih cepat geraknya, sehingga bisa untung lebih singkat.. 

Namun saya menyarankan pada anda, jika anda nantinya dianjurkan untuk trading forex saja karena "forex untungnya cepat", "forex bisa cepat kaya", jangan mudah terpengaruh dengan ajakan2 seperti itu. 

Dari pengalaman saya pribadi, saya akui bahwa mengatur psikologis forex bisa lebih menantang dibandingkan saham, terutama dalam hal disiplin memasang target take profit dan cut loss. 

Anda mau mencoba saham atau forex dulu, itu tergantung tujuan anda. Anda maunya trading mata uang or anda memang pingin beli saham perusahaan yang bagus-bagus? 

Anda juga harus melihat profil risiko anda. Anda yang tidak suka risiko terlalu tinggi, cobalah trading saham dulu. Kalau anda benar2 penasaran dengan forex, dan anda sudah siap, maka cobalah forex. 

Kalau tujuan anda mau investasi jangka panjang pilihlah sahan. Kalau profil risiko anda siap dengan fluktuatif, dan anda siap dengan scalping, pilihlah forex. 

Dibalik semua itu, baik saham maupun forex, semua membutuhkan kesiapan yang matang baik dari segi  psikologis, analisa, manajemen modal yang baik, mindset yang tepat kalau anda mau untung. Tentunya, bukan berharap dapat untung sekejap mata. 

Wednesday, 3 April 2019

Trading di Saham Breakout

Beberapa waktu lalu di web Saham Gain ini (di kolom komentar salah satu postingan saya), ada pembaca bertanya mengenai saham breakout. Pertanyaannya seperti dibawah ini: 

Saat rebound, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk breakout?

Kalau anda belum tahu apa itu saham breakout, anda bisa baca-baca pos saya disini: Strategi Trading Saham: Buy on Breakout. Saya juga pernah membahas praktik2 langsung menemukan saham breakout. Anda bisa mendapatkan praktik2nya disini: Panduan Simpel & Efektif Menemukan Saham Bagus. 

Harus anda ketahui, di pasar saham itu tidak ada sesuatu yang pasti. Jadi kalau anda bertanya: Setelah saham breakout dari resisten tertentu / setelah saham memberikan konfirmasi breakout, berapa lama saham tersebut bisa naik? 

Maka jawabannya: Tergantung dari kondisi saham, terutama kondisi market itu sendiri. Apakah setelah breakout saham bakalan naik sampai seminggu? Sebulan? Atau cuma sehari-dua hari? Semua mungkin terjadi. 

Di pos ini, saya mau berbagi sedikit banyak pengalaman saham breakout tersebut, terutama menyangkut berapa lamanya saham bisa naik setelah breakout. 

Cepat lamanya suatu saham breakout, bisa tergantung dari kondisi market (IHSG). Ada tiga skenario yang sering terjadi di pasar saham kita: 

1. Market lagi jelek / koreksi tajam 

Ketika market lagi turun-turunnya (bukan cuma koreksi biasa, tapi market benar2 lagi anjlok), atau ketika market lagi sepi transaksi tapi IHSG berada dalam kondisi yang sulit naik, maka biasanya saham2 yang sudah memberikan sinyal breakout, naiknya tidak bertahan terlalu lama. 

Umumnya 1-3 harian, dan setelah itu, saham akan turun / cooling down. Hal ini karena ketika market lagi jelek, trader juga berpikir untuk menaikkan saham sampai ke resisten maksimal, sehingga kebanyakan trader hanya memanfaatkan momentum-momentum pendek untuk take profit. 

Kalau anda nggak percaya, anda bisa perhatikan sendiri nanti ketika ada momen2 di mana market lagi lesu-lesunya. Maka saham2 yang sudah breakout ini, naiknya nggak terlalu bertahan lama. 

2. Market lagi tidak banyak gejolak

Ketika market tidak lagi banyak gejolak, tidak banyak sentimen negatif atau positif, saham-saham yang sudah breakout, umumnya bisa naik lebih lama lama, yaitu sekitar 1 mingguan. Sehingga saham2 breakout ini cocok digunakan untuk swing trading. Baca juga: Tips dan Strategi Swing Trading Saham. 

3. Market lagi bullish / euforia

Ketika market lagi bullish atau lagi bagus-bagusnya, maka saham2 yang breakout ini umumnya bisa naik diatas 1 minggu sampai 1 bulan. Sehingga, kalau market lagi bullish dan ada saham pola breakoutnya bagus (setelah koreksi tajam), saham2 tersebut sangat bagus buat disimpan (hold). 

Jadi nggak heran kalau trading di saham breakout sering dikaitkan dengan strategi swing trading, karena saham2 yang breakout umumnya bisa naik lebih lama kalau kondisi marketnya lagi bagus atau nggak banyak gejolak.  

Harus diakui, kondisi market cukup mempengaruhi kondisi suatu saham. Walaupun banyak trader yang mengatakan: 

"Kalau mau trading itu, analisa sahamnya bukan IHSG-nya". But, praktiknya nggak semudah teori. Dalam menganalisa saham, anda juga perlu menganalisa dan melihat kondisi IHSG-nya (except anda tradingnya di saham2 gorengan), terutama anda yang mau melakukan swing trading dengan cari saham breakout, maka selain anda harus memilih saham yang bagus secara teknikal, kondisi market juga harus anda lihat.    

Tapi intinya, soalnya di saham tujuan kita semua adalah cari profit, cari duit, maka sebenarnya nggak ada masalah saham mau breakout-nya cuma 2 hari atau sebulan. 

Selama, anda bisa menyesuaikan dengan strategi trading, peka terhadap market, mampu mencari saham2 yang punya pola bagus, anda tetap punya kesempatan untuk profit dari saham2 breakout tersebut, walaupun mungkin jangka waktunya take profit-nya bervariasi.  

Monday, 1 April 2019

Pengalaman Saya di Saham Gorengan

Saham gorengan adalah saham yang tidak likuid, kinerja fundamentalnya jelek dan tentunya sangat rawan digoreng oleh bandar. Yap, saham2 gorengan ini mayoritas "dikuasai" bandar, dengan tujuan untuk dinaik-turunkan dalam tempo tertentu. Karena sahamnya nggak terlalu likuid, tidak sulit bagi bandar untuk punya sahamnya dalam jumlah besar. 

Nah, di pos sebelumnya: Contoh Grafik Saham Gorengan, kita sudah membahas tentang beberapa contoh ciri saham gorengan jika dilihat dari teknikalnya.

Sekarang saya mau cerita sedikit banyak pengalaman pribadi tentang saham gorengan. Saya punya teman seorang trader (bukan bandar), tapi trader tersebut punya cukup banyak kenalan / link bandar saham. 

Saat itu lagi ramai-ramainya grup saham Bakrie seperti ELTY, BUMI, dkk digoreng. Dan saham BIPI (salah satu grup Bakrie), juga cukup ramai diperbincangkan karena saham ini tiba-tiba bergerak, dan volatilitasnya cepat, tidak seperti sebelumnya. 

Seorang teman trader memberikan informasi kepada saya (informasi ini berdasarkan informasi bandar), bahwa bandar akan menaikkan saham BIPI sampai ke 250 dalam beberapa bulan kedepan (waktu itu BIPI harganya masih di 80-an). 

Saya nggak ikut beli sahamnya. Tapi soalnya saya penasaran juga, akhirnya coba mengamati terus pergerakan BIPI ini. Dan memang ternyata benar, nggak butuh waktu lama, BIPI beranjak naik sampai 103-104. Perhatikan grafik BIPI dibawah ini:     

Saham BIPI
Perhatikan yang saya beri tanda lingkaran, pada area tersebut, saham BIPI mulai ramai ditransaksikan, dan saya dapat info dari teman (di mana teman trader saya punya link langsung dari bandar), bahwa BIPI bakal naik ke 250 dalam beberapa bulan. 

Memang saat itu BIPI berhasil naik drastis dair angak 60-an, 70, 80 sampai ke harga 104 kala itu. Namun ternyata BIPI nggak naik sampai 250. Justru sebaliknya, setelah BIPI naik ke 104, BIPI dijual terus. 

Dan yang lebih parah, BIPI saat ini harganya balik ke harga gocap (Rp50), dan tidak ditradingkan lagi. Baca juga: Ciri-ciri Saham yang Ditinggal Bandar. 

Apa pelajaran yang bisa kita ambil bersama dari pengalaman trading ini?

Ada dua poin penting yang ingin saya sampaikan pada anda, yaitu sebagai berikut: 

1. Di pasar saham, jangan percaya siapapun 

Sekalipun anda mendapat informasi, saham A bakal naik, saham B bakal dinaikkan sampai ratusan persen, namun hal ini tidak ada jaminan pasti benar. Saya sudah banyak mendapatkan informasi2 saham yang bakal dinaikkan tapi faktanya sahamnya nggak naik sesuai harapan.

Selain itu, harus anda ketahui juga bahwa ketika bandar mau menggoreng saham dan menetapkan target, itu baru planning, bukan eksekusi. Bandar juga pasti akan melihat situasi kondisi saat akan menaikkan harga saham. 

Misalnya, jika bandar mau menaikkan saham BIPI ke 250, tapi ternyata ketika di harga 100, ada bandar lain yang punya banyak barang di BIPI (nyangkut), dan mau melakukan banyak aksi jual, maka bandar akan berpikir untuk menaikkan BIPI ke 250, karena diatas harga 100, ternyata banyak bandar yang ingin menjual saham, sehingga kemungkinan besar harga akan berat kalau dinaikkan lagi. 

Atas dasar ini, bandar akan memutuskan untuk langsung jual di 100-an, toh profitnya sudah gede.  

Maka dari itu, planning2 yang ditetapkan bandar. Termasuk informasi2 yang anda terima dari luar, tidak selalu akan dieksekusi sesuai dengan apa yang anda dengar. Di dalam trading, anda harus bisa menganalisa sendiri, dan tidak bergantung pada orang lain.  

2. Jangan mengandalkan bandar, ataupun orang lain sebagai jalan untuk "profit cepat"

Saya banyak menemukan trader yang tidak mau menganalisa, memilih saham, belajar analisa teknikal, tetapi mau langsung untung cepat. 

Akhirnya, 'jalan pintas' yang diambil adalah dengan mengandalkan informasi bandar saham. Kalau bandar bilang mau menggoreng saham A, trader ikut beli. Kalau bandar bilang mau menggoreng saham C, trader juga ikut beli. 

Nah, inilah cara trading yang salah. Banyak trader yang pakai cara ini, mereka bukannya dapat untung konsisten, malah banyak nyangkut di saham gorengan. 

Karena di poin pertama sudah saya jelaskan, bahwa informasi2 tentang saham yang dikatakan oleh orang lain, belum tentu realitanya akan seperti itu. 

Pengalaman saya dapat informasi BIPI akan dinaikkan sampai ke 250 ini, bisa menjadi pelajaran untuk kita semua, bahwa untuk bisa dapat untung di saham, anda dan saya sendirilah yang harus mencari, dan praktik sendiri memilih saham. Baca juga: Langkah-langkah Belajar Saham Otodidak.   

Jangan mempercayai informasi2 tentang saham gorengan, apalagi anda ingin dapat profit dengan cara mengikuti apa kata bandar.  

Contoh Grafik Saham Gorengan

Di pos ini: Daftar dan Contoh Saham Gorengan, kita sudah membahas bersama tentang ciri-ciri pergerakan saham gorengan itu seperti apa. Di pos tersebut, saya juga memaparkan beberapa contoh saham gorengan. 

Nah, di pos ini saya akan memberikan beberapa contoh grafik saham gorengan. Sebenarnya mayoritas saham di Bursa Efek adalah saham gorengan (saham lapis tiga). Di jam trading, anda bisa perhatikan banyak sekali saham yang pergerakan harganya nggak beraturan, dan tidak likuid.

Selain itu, mayoritas saham2 IPO juga selalu masuk dalam saham gorengan. Karena sekarang syarat IPO lebih mudah, maka banyak emiten yang sudah bisa go public hanya dengan mengeluarkan jumlah saham beredar yang kecil, sehingga sahamnya sangat rentan digoreng.  

Maka, anda juga perlu mengetahui ciri-ciri / tipe saham gorengan jika kita lihat dari chartnya. Oke, berikut beberapa contoh saham gorengan di Bursa Efek:  

1. Saham WICO



Lihat chart WICO, di mana harga saham bisa naik-turun secara drastis (lihat candle yang panjang). Tapi kemudian sahamnya jadi saham tidur cukup lama. Volumenya juga tidak beraturan. Kadang bar volume tinggi, terkadang sangat tipis / nyaris tidak ada volume. 

2. Saham VINS


Saham VINS juga punya pola chart yang tidak beraturan, di mana harga saham ini bisa naik dan turun dengan sangat drastis hanya dalam 1-2 hari (tanda persegi), tapi setelah itu nyaris nggak ada transaksi setelahnya (tanda lingkaran). Ini menunjukkan bahwa saham ini hanya dimainkan bandar sesaat, setelah itu sahamnya 'ditinggal' bandar.   

3. Saham BCIP 


BCIP juga memiliki pola chart yang aneh, di mana saham ini hampir nggak ada transaksi, sideways lamaaaa. Kemudian tiba2 harganya melonjak dalam sekejap. Namun setelah itu, harga saham terus turun tanpa ada yang mengangkat lagi harganya (tanda lingkaran). 

4. Saham BIPI


Saham BIPI bisa anda lihat polanya, di mana harga sahamnya naik-turun puluhan persen dalam 2 hari (lingkaran), setelah itu jadi saham tidur lagi. 

5. Saham CAKK


Grafik CAKK juga terlihat bahwa saham ini tidak bergerak dalam rentang yang sangat lama. Namun tiba2 saham ini naik dengan cepat hanya dalam 3 hari. Tapi tidak lama kemudian, saham ini juga langsung turun puluhan persen dalam 2 hari. 

Walaupun pola kenaikan saham CAKK ini bisa anda manfaatkan juga buat scalping, namun tentu anda juga harus mempertimbangkan risikonya. Kalau anda mau scalping, pakailah modal sekecil mungkin, dan disiplinlah dalam cut loss. 

6. Saham POOL 


Saham POOL juga demikian. Saham ini awalnya sideways lama. Kemudian dalam hitungan beberapa hari sahamnya naik drastis. Namun seteah itu, sahamnya kembali sideways, dan kemudian turun drastis, dan tidak ada yang mengangkat harganya lagi. 

Itulah contoh grafik saham gorengan. Tentu saja ada banyak sekali pola-pola saham gorengan, yang tidak bisa saya sebut satu per satu, soalnya saham gorengan ini, setelah saya screening, jumlah buanyaak amat, ratusan lebih. 

Semoga dengan tulisan ini, anda bisa meningkatkan pemahaman tentang saham gorengan. 

Tapi perlu anda ketahui juga, bahwa saham yang berisiko untuk trader bukan cuma saham2 gorengan seperti pola2 diatas. Saham-saham yang terkesan likuid pun, bisa berisiko untuk trader. Jadi di dalam trading, anda harus cermat dalam memilih saham. Baca juga praktik2nya disini: Panduan Simpel & Efektif Memilih Saham Bagus. 

Di pos-pos selanjutnya, nanti akan saya tulis pengalaman pribadi saya tentang jebakan saham gorengan.